Sabtu, 28 Februari 2009

SAAT KUTELUSURI LORONG HIDUPKU

Sesi 1
Perjalan ini adalah perjalannan panjang dan melelahkan. Sepanjang jalan itu aku menemukan duka lara dan terkadang kebahagian juga datang kepadaku dengan jalannya yang melenggok santai. Terlalu banyak kenangan yang mengukir papan kehidupanku. Terkadang rasa lelahpun datang menghimpit seluruh tubuh lalu mengunci seluruh persendianku. Barangkali ini terjadi karena terlalu banyak peran yang ku mainkan dalam pentas sandiwara yang teramat luas ini. Bahkan pernah aku memainkan banyak peran dalam waktu yang bersamaan dan yang aku dapatkan hanya kehampaan. Samapai suatu ketika ada yang protes dan menertawakannku.

Aku mencoba menikmati saat-saat istirahatku dengan secangkir minuman hangat penuh rempah-rempah alami. Namun ternyata kepahitan hidup dan manisnya angan-anganpun tanpa sadar telah kuaduk bersama minuman hasil racikanku itu. Hasilnya, citra rasa minumanku tidak terdefinisikan. Lidahku mencoba untuk melukiskan citra itu namun kanfas pikiranku terlalu rapuh hingga ia pun robek tatkala lidahlku menari melukis sketsa dan mewarnai kehidupanku.
Lalu pertanyaan pertanyaan dari pikiranku terlalu berani melukai hati kecilku. Bahkan pernah piranku berkata “Kamu hanya seonggok daging yang kian hari membusuk, menjadi tempat berpestaporanya belatung yang kian ganas melahap bagian demi bagian dari dirimu. Dan tidak satupun yang peduli dan menanyakan akan kabarmu. Ah…ini adalah indikasi bahwa kamu tidak berharga. Lihat saja, kakimupun malah tidak sudi mengantarmu pada tempat yang kau idamkan. Sedang sahabatmu…..kemana mereka, oh…aku lupa bahwa tidak ada satupun orang yang bisa mengerti kamu…sehingga tak satu sosokpun yang bisa kau sebut sahabat bukan…..?...ha…ha…”. Jahat…kejam…pikiranku sendiri sangat tidak bersahabat menertawaiku seakan dia bukan bagian dari tubuhku.
Kini aku terperangkap dalam labirin yang tiada berujung dan tak satupun orang berada disana. Kucoba menyalakan obor kehidupanku…uhf…percuma. Lilin kecilpun aku tidak punya. Kini hatiku yang berteriak sembari berurai air mata “Oh..sepi dan gelap sekali disini….sungguh ini sangat menyesakkan dada…untuk bernafaspun menguras tenaga dalam. Ini bahkan lebih sepi dari Gua hantu tempat persembunyiannya siButa dan lebih gelap dari jelaga kelam yang bersemayam pada cerobong asap kereta api batubara. Kenapa tak kau akhiri saja perjalanan ini. Disini tidak ada satu pintupun yang menghantarmu pada cahaya ….tak satu pintupun. Sudahlah akhiri saja perjalanan ini. Kau sendiri bahkan tidak tahu kapan dan dimana ia akan berakhir”. Kepedihan ini mengguncang hebat tubuhku dan matakupun memandikan wajahku yang telah kering dan kusam tanpa seri sedikitpun.
Lidah yang baik hati mencoba menghibur dengan syair-syair indah tentang cita-cita dan harapan. Harapan untuk menemukan oborku kembali, harapan untuk menemukan pintu dan akhir dari perjalanan ini, cita-cita untuk membantu mereka yang terperangkap dalam labirin lain. Wow ini sungguh Sophisticated fikiranku yang tadi mulai tidur karena lelah kini terbangun, hatiku yang menutup wajahnya karena tak sanggup menatap gelap kini memelototi kelamnya lorong ini.
Kini pikiranku beranjak dari peraduannya walau terseok-seok ia berusaha berdiri tegak dan berkata “Akulah yang akan temukan pelita itu..wahai…jiwa yang kalut….bersihkan dirimu… kau mampu gunakan aku untuk berpikir…karena dengan berpikir aku akan temukan cahaya penerang lorong ini dan kan kau ketahui akhir dari perjalananmu. Bukankah kau punya mata, telinga dan hati…bersatulah agar aku bisa berpikir”

Perhiasan Yang Paling Indah

Perhiasan Yang Paling Indah
Wanita Sholihah