Salam buat sobat semuanya.
Saya harus minta maaf pada diri sendiri karena telah lama tidak menulis lagi disini. Defencenya adalah, mmmm tugas kuliah seabreg. Laporan Praktikum dan observasi TAT serta WB cukup menyita waktu. Tambah lagi menyelesaikan laporan PKL dan bikin proposal untuk penelitian. Namun hal ini menyenangkan.
Hari ini, saya ingin melepas kerinduan, dan menuangkan sedikit pengalaman disini. Tentunya kita masih ingat bagaimana para jamaah dilepas dan disambut di tanah air. Ada perasaan iri yang teramat sangat kepada mereka yang telah sempat berkunjung memenuhi undangan yang MAHA AGUNG. Karena itu saya menyempatkan diri untuk berkunjung kerumah salah seorang tamu Allah itu. Saya mendapatkan cerita menarik yang penuh ibrah. Terusin membacanya ya......
Beliau sudah cukup tua untuk melakukan perjalan ke Makkah. Namun beliau telah tiga kali berkunjung ke Rumah Allah tersebut. Saya mengutarakan keinginan saya yang besar untuk beribadah di Masjidil Haram. Lalu beliau tersenyum dan mengatakan "Yakinlah maka kamu akan sampai disana". Ia mulai menceritakan kisah pertama ia bisa berangkat Ketempat yang menentramkan hati tersebut.
Semua berawal dari kerinduan yang teramat sangat. Sehingga beliau pergi ke sawahnya yang hanya sepetak kecil, lalu mulai menabur benih disana sambil berkata. "hai sawah, ini saya tabur segenggam untuk bangsa burung yang mencari makan, satu genggam untuk orang yang melewati sawah ini dan ingin mencicip isinya kemudian satu genggam untuk saya terbang ke ka'batullah. Berbuahlah sebanyak-banyaknya, tidak akan saya gunakan kecuali untuk mengunjungi Rumah Allah". Lalu Beliau tersenyum dan matanya sedikit berkaca-kaca. Dalam masah tumbuh dan berkembangnya benih itu, banyak orang yang melapor kepada beliau bahwa terlalu banyak burung dan ayam dalam sawahnya. Beliau hanya meminta orang-orang untuk membiarkannya saja, karena mereka semua sudah ada reskinya disana. Saat panen, hasil padinya sangat mencengangkan, yaitu tiga kali lipat hasil yang seharusnya beliau terima. Dengan wajah tersungkur ia menangis dan langsung uang dari hasil penjualan berasnya ditabung untuk berangkat ke Makkah Almukarramah serta tidak sedikitpun digunakan untuk yang lain. jadilah beliau berangkat sebagai tamu Allah dalam usia 36 tahun. Lalu beliau berkata "Dan kalian semua cucu-cucuku, ku mintakan pada Allah, agar mengizinkan kalian menapakkan kaki disana". Saya tak kuasa membendung air mata saking terharunya, rasanya tak terperikan saat saya membayangkan mengucapkan kalimat talbiyyah sambil terus merasakan kedekan Allah dan segala kelimpahan yang telah diberikanNya.
Subhanallah. dengan badan yang sehat beliau bisa menjalankan rutinitas ibadah disana dengan baik dan khusu'. Kuncinya adalah NIAT YANG IKHLAS, Allah akan mengarahkan segala aktivitas kita pada apa yang kita tuju. Semoga kita bisa beribadah disana, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha. AMIIN
Wallahu A'lam bisawwab, semoga bermanfaat.
with smiling VIR